Ingin Jadi Smart Terminal, TPK Koja Kembangkan Inovasi Digital

Reporter: Agus Haryanto

Editor: Teguh Imam S.

Kalangan bisnis yang terbiasa melakukan kegiatan ekspor dan import barang melalui pelabuhan di Jakarta, tentu tidak asing dengan nama -nama seperti PT Pelindo II atau IPC, Jakarta International Container Terminal atau JICT. Nah, ada satu lagi yang sudah berdiri sejak tahun 1997 yaitu Terminal Petikemas Koja atau disingkat TPK Koja. Namun bentuknya bukan Perseroan Terbatas, tapi Kerja Sama Operasi atau KSO.

Begini sejarah singkatnya. Perkembangan Indonesia di awal tahun 1990-an membawa meningkatnya kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dua terminal kontainer yang ada saat itu, tidak mampu lagi untuk menangani besarnya volume kontainer.

Untuk memenuhi pesatnya peningkatan kebutuhan terhadap layanan penanganan kontainer, BUMN PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) bekerja sama dengan perusahaan swasta, PT Hutchison Ports Indonesia (sebelumya bernama PT Ocean Terminal Petikemas yang merupakan kelanjutan dari PT Humpuss Terminal Petikemas), bersama-sama membangun terminal baru, yaitu Terminal Petikemas Koja yang disingkat TPK Koja. Dua perusahaan ini juga membentuk Kerja Sama Operasi (KSO) untuk menangani operasional harian terminal baru itu.

Seiring berjalannya waktu dan dengan melakukan sejumlah optimalisasi program, kapasitas TPK Koja kini telah meningkat dari 680 ribu menjadi lebih dari 1 juta TEU kontainer per tahun, dan telah siap untuk melayani kapal kontainer generasi keempat yang lebih besar.

“Visi TPK Koja adalah menjadi terminal kontainer kelas dunia. Misinya, tumbuh bersama kepuasan pelanggan,” kata Safuan, Sekretaris Perusahaan KSO TPK Koja dalam sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2020 secara online yang diselenggarakan majalah IT Works di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2020.

“Kebijakan Mutu yang diusung KSO TPK Koja yaitu senantiasa mengutamakan kepuasan pelanggan dengan menghasilkan dan menjaga, agar jasa bongkar muat dan penumpukan petikemas selalu tepat mutu, tepat waktu dan tepat jadual dengan memenuhi persyaratan statutory dan regulatory yang berlaku,” tambahnya.

TPK Koja memiliki Nilai & Budaya yaitu n-Step, yang merupakan semangat perubahan dan pembaharuan perusahaan, dengan penjabaran sebagai berikut, pertama Next Step: Berkesinambungan melangkah ke depan sebagai kelanjutan dari pencapaian sebelumnya; kedua, New Challenges: Semangat baru yang membawa harapan untuk menghadapi tantangan  selanjutnya; ketiga, Necessary Actions: Rangkaian  tindakan yang perlu dilakukan untuk melangkah ke depan menghadapi setiap tantangan.

Safuan juga menjelaskan bahwa n-Step adalah akronim dari 5 nilai yang dianut oleh TPK Koja, yaitu Nasionalisme, Sinergi, Trust, Empati dan Persistensi. 


KSO TPK Koja dalam sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2020 secara online yang diselenggarakan majalah IT Works di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2020. (Dokumentasi IT Works).

Smart Terminal

Sejalan dengan Master Plan IT-nya, TPK Koja akan dikembangkan dalam tahapan, mulai dari tahun 2020 berupa Coventional Terminal dengan Open Connectivity; 2021 dengan Enhanced Integration; 2022 dengan Visibility dan Mobility; 2023 dengan Digital Sensibility; terus berkembang menjadi Smart Terminal di tahun 2024 dengan Interconnectivity dan Interoperability,” ungkap Safuan.

Solusi Bisnis

Dalam kesempatan ini kepada dewan juri Safuan menjelaskan pelayanan yang diberikan TPK Koja kepada pelanggan terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Ada sejumlah inovasi digital yang telah dikembangkan oleh KSO ini.

“Sistem pelayanan Billing di TPK Koja juga telah mengalami perubahan, yang awalnya dilakukan di loket pelayanan oleh staf Billing jadi pelayanan mandiri oleh pengguna jasa melalui fasilitas KIOS-K dan pembayaran cashless menggunakan EDC dari bank BNI, Mandiri dan CIMB Niaga sejak Maret 2017. Tapi pencetakan dokumen pelayanan seperti eTicket dan Invoice masih dilakukan oleh staf Billing,” ujar Safuan.

Sejak Februari 2020, layanan Billing di TPK Koja sudah dikembangkan dari layanan mandiri menggunakan KIOSK menjadi layanan online berbasis aplikasi mobile yang dapat diakses melalui aplikasi TPKKOJA Mobile (m-TPKKoja) yang dapat diunduh di Google PlayStore.”

Selain menu untuk transaksi Billing sampai dengan penerbitan QRCode eTicket, aplikasi TPKKOJA Mobile juga dilengkapi dengan menu khusus Bea Cukai berupa informasi Customs Module yang dapat digunakan untuk memantau transaksi Gate TPKKOJA, informasi Transhipment TPK Koja ke JICT maupun sebaliknya dan update data Hold dan Released Container. Semua informasi data transaksi tersebut disajikan secara real time.

QR Code eTicket

“Dokumen pelayanan petikemas di TPK Koja telah mengalami perubahan secara signifikan. Dimulai dari tahun 1997 masih berupa Kartu Ekspor dan SP2 yang tercetak di lembar kertas (hardcopy). Kemudian sejak implementasi Autogate tahun 2014, dokumen tersebut berubah menjadi RFID eTicket untuk dapat dilakukan transaksi secara elektronik dengan sistem Autogate,” katanya.

“Dalam perkembangannya, pada awal Januari 2020, RFID eTicket tersebut telah dikembangkan menjadi QR Code eTicket. Dengan QR Code eTicket, pengguna jasa dapat melakukan transaksi Billing mandiri secara lebih menyeluruh, mulai input data, pembayaran secara cashless, sampai dengan pencetakan Invoice dan QR Code eTicket,” tambah Safuan.

Marketplace Integration

“Adapun Digital Gate Pass merupakan pengembangan lebih lanjut dari dokumen layanan berupa QR Code eTicket yang tadinya dapat dicetak secara mandiri oleh pengguna jasa, telah dikembangan ke dalam bentuk digital yang dapat diakses melalui perangkat komunikasi seperti smartphone dengan menggunakan aplikasi mobile berbasis Android yang didukung oleh platform logistik seperti LOGOL, Lontar, ClickCargo, iTruck, DigiCo, dan INSW,” ungkap Safuan.

TPK Kojajadi pilot project INSW untuk SP2 Online

Pada 15 Juni 2020, TPK Koja telah bekerjasama dengan lembaga Indonesia National Single Window (INSW), yang berada dibawah koordinasi Kementerian Keuangan RI, sebagai penyelenggara negara untuk melakukan pengawasan dan mekanisme pengendalian pelayanan logistik. Salah satu program atau Quick Win dari INSW adalah implementasi SP2 Online di bulan Juni 2020.

SP2 Online merupakan bentuk layanan kepada pengguna jasa untuk mendapatkan dokumen layanan terminal petikemas terkait pengeluaran petikemas dari TPS secara online. Hal ini sejalan dengan perkembangan pelayanan di TPK Koja berupa Digital Gate Pass.

INSW mengembangkan platform bagi pengguna jasa, yang terintegrasi dengan sistem Bea & Cukai berupa National Logistic Ecosystem (NLE), sistem dari Shipping Line berupa Electronic Delivery Order (e-D/O), dan terintegrasi penuh dengan sistem di TPK Koja untuk transaksi Billing dalam hal pengeluaran petikemas

Bagi TPK Koja, kerjasama dengan platform INSW berupa integrasi sistem, akan mengurangi fungsi validasi data oleh Terminal Petikemas terkait data dokumen layanan, seperti SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) dari Bea & Cukai dan D/O (Delivery Order) dari Shipping Line. Yang semula semua data tersebut dilakukan validasi oleh pihak Terminal Petikemas, maka melalui platform INSW sudah dilakukan validasi data oleh sistem INSW itu sendiri.

Manfaat SP2 Online dari INSW bagi pengguna jasa adalah kemudahan layanan mandiri secara online dalam bertransaksi dengan pihak terkait, tanpa harus melakukan kontak langsung dengan personel Bea Cukai, Shipping Line dan Terminal untuk pengurusan pengeluaran petikemas dengan menggunakan Digital Gate Pass sebagai bentuk dari SP2 Online tersebut.

Sumber : itworks.id

(Visited 88 times, 3 visits today)
Please follow and like us:
error20

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 7 =